Kisah Manusia Pembawa Ember
Pada zaman dahulu kala, ada dua orang saudara sepupu yang sangat ambisius. Yang pertama bernama Pablo dan yang kedua bernama Bruno. Mereka tinggal berdampingan disebuah desa kecil di Italia.
Kedia orang itu merupakan anak-anak muda yang sangat berkualitas.
mereka sering berkhayal bagaimana kalau suatu hari nanti mereka menjadi orang yang terkaya didesanya. Keduanya merupakan orang yang sangat cemerlang dan amat tekun bekerja. Yang mereka perlukan adalah kesempatan.
mereka sering berkhayal bagaimana kalau suatu hari nanti mereka menjadi orang yang terkaya didesanya. Keduanya merupakan orang yang sangat cemerlang dan amat tekun bekerja. Yang mereka perlukan adalah kesempatan.
Pada suatu hari kesempatan itupun datang. Kepala desa di desa dimana mereka berdua tinggal memutuskan untuk memperkerjakan dua pemuda itu untuk membawa air dari sungai ke sebuah penampungan air ditengah desa itu.
Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno.
Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno.
Keduanya masing – masing membawa dua buah ember dan segera menuju sungai. Menjelang sore hari, keduanya telah mengisi penampungan air sampai mencapai sisi – sisi permukaannya. Ketua desa menggaji mereka masing masing berdasarkan jumlah ember air yang mereka bawa.
“wah, ini berarti cita-cita kita terkabul,” seru Bruno.
“Saya tidak bisa percaya bahwa kita bisa mendapat rezeki sebanyak ini.”
Tetapi Pablo tidak ingin yakin begitu saja.
“wah, ini berarti cita-cita kita terkabul,” seru Bruno.
“Saya tidak bisa percaya bahwa kita bisa mendapat rezeki sebanyak ini.”
Tetapi Pablo tidak ingin yakin begitu saja.
Punggunya nyeri dan kedua telapak tangannya lecet – lecet.
Itu akibat ia membawa dua buah ember yang berat. keesokan paginya, ia merasa takut saat harus pergi kerja. Karena itu, ia berfikir keras mencari akal bagaimana caranya membawa air dari sungai ke desanya.
Itu akibat ia membawa dua buah ember yang berat. keesokan paginya, ia merasa takut saat harus pergi kerja. Karena itu, ia berfikir keras mencari akal bagaimana caranya membawa air dari sungai ke desanya.
“Bruno, saya punya rencana,” kata Pablo. ” Daripada kita mondar-mandir membawa ember hanya untuk mendapatkan beberapa penny perhari, mengapa kita sekalian saha membuat sebuah saluran pipa dari sungai ke desa kita,” lanjutnya.
Bruno menghentikan langkahnya, ” Saluran pipa! Ide dari mana itu?!. Kita khan sudah mempunyai pekerjaan yang sangat bagus, Pablo. Saya bisa membawa seratus ember sehari. Dengan upah satu penny per ember, berarti penghasilan kita bisa satu dollar per hari! Saya akan menjadi orang kaya! dan pada akhir minggu, saya bisa membeli sepatu baru. Pada akhir bulan saya bisa membeli seekor sapi. Dan pada akhir bulan keenam, saya sudah bisa membangun sebuah gubuk baru. Tidak ada pekerjaan semenguntungkan ini di desa ini. Pada Akhir minggu kita dapat libur. dan setiap tahun, kita juga berhak cuti selama dua minggu dengan gaji utuh. kita akan memiliki kehidupan yang layak!!! Jadi buang jauh-jauh pikiran untuk membangun saluran pipa itu…!!!”
Tetapi Pablo tidak mudah putus asa. ia dengan sabar menerangkan tentang rencana pembuatan saluran pipanya kepada sahabatnya itu.
Akhirnya Pablo memutuskan untuk BEKERJA PARUH WAKTU. ia tetap bekerja mengangkut ember-ember air. Separuh waktunya serta diakhir minggu dia luangkan untuk membangun saluran pipanya.
Dari awal, dia sudah menyadari bahwa akan sangat sulit baginya untuk menggali saluran di tanah yang mengandung batu karang itu. Ia pun menyadari, lantaran upahnya iru berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannyapun otomatis menurun.
Dia paham benar bahwa dibutuhkan waktu satu tahun atau bahkan dua tahun, sebelum saluran pipanya bisa menghasilkan sesuatu yang berarti. Tetapi Pablo yakin akan impian dan Cita-citanya. Karena itu, dia terus giat bekerja.
Bruno dan Orang – orang desa yang lainnya mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya” Pablo Si Manusia Saluran Pipa.”
Bruno yang berpenghasilan hampir dua kali lipat daripada Pablo, terus membangga-banggakan barang baru yang telah berhasil dibelinya. Dia sudah membeli seekor Keledai yang dilengkapi dengan sadel kulit yang baru. Dia memarkir keledai barunya di samping gubuk barunya yang terdiri dari dua lantai. Dia juga membeli baju – baju indah dan bisa makan mewah dikedai.
orang – orang di desanya menyebutnya ” Mr. Bruno”. Mereka selalu menyabutnya kalau dia mentraktir mereka minum – minum di bar dan ikut tertawa – tawa saat dia menceritakan lelucon – leluconnya.
Sementara Bruno berbaring santai dijaring gantungan di sore hari pada akhir minggu, Pablo terus saja menggali saluran pipanya.
Pada bulan – bulan pertama, Pablo memang tidak bisa menunjukkan hasil dari usahanya. Pekerjaan memang sangat berat. Bahkan lebih berat dari pada pekerjaan Bruno, karena Pablo Juga harus bekerja pada malam hari, demikian pula diakhir minggu.
Tetapi Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita – cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Inci per inci.
” Sedikit demi sedikit, lama – lama menjadi bukit,” katanya sambil bersenandung saaat dia mengayunkan cangkulnya pada tanah yang mengandung baru karang. Dari satu inci kemudian menjadi satu kaki, kemudian menjadi 10 kaki, kemudia menjadi 20 kaki, lalu 100 kaki, dan seterusnya…
” Bersakit – sakit dahulu, bersenang – senang kemudia.” kata – kata itulah yang selalu dicamkan pada dirinya sendiri saat dia kembali ke gubuknya yang sederhana. Tubuhnya amat lelah setelah seharian bekerja.
Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang akan dicapainya. Caranya adalah setiap hari dia menetapkan sasaran yang akan dicapainya pada hari itu. Lalu dia akan berusaha keras untuk mencapainya. Dia juga selalu yakin bahwa lama kelamaan hasil yang dicapainya itu akan jauh daripada perjuangan yang dilakukannya.
“Fokuskan selalu pada imbalan yang akan diperoleh,” kata – kata itu senantiasa ia ulang – ulang saat dia pergi tidur. Sementara dari bar di desa terdengar gelak tawa mengirinya ke alam mimpi.
” Fokuskan selalu pada imbalan yang akan diperoleh…”
Hari berganti bulan. Pada suatu hari, Pablo menyadari bahwa saluran pipanya sudah setengah jadi. Berarti dia hanya perlu berjalan setengahnya dari jarak yang biasa ditempuh untuk mengisi ember – embernya. Dan waktu yang tersisa, digunakannya untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat – saat penyelesaian saluran pipanyapun semakin mendekat.
Saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkut ember – ember. Bahu Bruno tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia menyeringai kesakitan, langkahnya semakin lamban akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena dia menyadari bahwa dia “Ditakdirkan” untuk terus mengangkut ember – ember setiap hari sepanjang hidupnya.
Dia semakin jarang bersantai – santai di tempat tidur gantunya. Dia lebih sering terlihat di bar. saat pengunjung bar melihat Bruno, mereka saling berbisik,” Nah, ini dia Bruno Si Manusia Ember,” dan mereka tersenyum geli saat beberapa orang meniru postur tubuh Bruno yang sudah membungkuk dan cara jalannya yang terseok – seok.
Bruno tidak lagi suka mentraktir minum teman – temannya atau menceritakan lagi lelucon – lelucon. Dia Lebih suka duduk sendiri di sudut yang gelap ditemani botol – botol kosong disekelilingnya.
Akhirnya saat bahagia Pablopun tiba. Saluran pipanya sudang rampung!!! Orang orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desanya. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan orang – orang yang semula tinggal disekeliling desa tersebut sengaja pindah ke sana. Desa itupun kemudian terus tumbuh dan semakin makmur.
Setelah saluran pipa itu selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa – bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu mengalir diakhir minggu ketika dia asyik bermain. Semakin banyak air yang mengalir ke desa itu, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.
Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan” Pablo Si Manusia Pipa”, sekarang menjadi lebih terkenal dengan sebutan ” Pablo Si Manusia Ajaib”.
Para Politisi memujinya karena mempunyai visi yang baik. Mereka bahkan memintanya agar mencalonkan diri menjadi a walikota. Tetapi Pablo paham sekali bahwa apa yang dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Hal ini hanyalah merupakan langkah awal dari pencapaian suatu cita – cita yang besar. Memang benar. Nyatanya, Pablo memiliki rencana yang jauh lebih besar daripada yang dia sudah lakukan didesanya.
PABLO BERENCANA UNTUK MEMBANGUN SALURAN PIPA DI SELURUH DUNIA.
saluran pipa membuat Bruno kehilangan pekerjaannya. Pablo merasa sangat prihatin melihat sahabatnya itu sampai haus mengemis – ngemis meminta minuman dibar, Karena itulah Pablo berencana untuk menemui Bruno.
“Bruno, saya datang kesini untuk meminta bantuanmu.”
Bruno meluruskan bahunya yang bungkuk.
Bruno meluruskan bahunya yang bungkuk.
Matanya yang tampak kelampun mengecil.” jangan menghina saya ya,” Kata Bruno.
” Tidak, saya datang kesini bukan untuk menghina kamu,” kata Pablo.
” Justru saya mau menawarka peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk menyelesaikan pembangunan pipa saya yang pertama. Tetapi, dalam masa dua tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat – alat apa saja yang harus digunakan. saya jadi lebih paham tempat dimana saya sebaiknya harus mencangkul dan menggali. Dan selam saya bekerja, saya juga rajin mencatat mengenai semua itu. Oleh karena itu, sekarang ini saya sudah mampu mengembangkan suatu cara baru yang lebih baik untuk membangun saluran – saluran pipa lainnya.”
” Justru saya mau menawarka peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk menyelesaikan pembangunan pipa saya yang pertama. Tetapi, dalam masa dua tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat – alat apa saja yang harus digunakan. saya jadi lebih paham tempat dimana saya sebaiknya harus mencangkul dan menggali. Dan selam saya bekerja, saya juga rajin mencatat mengenai semua itu. Oleh karena itu, sekarang ini saya sudah mampu mengembangkan suatu cara baru yang lebih baik untuk membangun saluran – saluran pipa lainnya.”
“sebetunya, bisa saja saya membangun saluran pipa itu sendirian dalam waktu setahun. Tetapi rasanya, untuk apa saya menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan yang lain – lainnya cara – cara membangun pipa. nantinya kamu dan yang lain – lainnya itu mengajarkan lagi kepada orang – orang baru lainnya lagi. Begitulah seterusnya..sampai suatu saat nanti setiap desa diwilayah ini memiliki saluran pipa. Lalu, saluran pipa ini menyebar ke setiap desa, di negara kita. Dan bahkan akhirnya, pipa – pipa ini akan ada disetiap desa di seluruh dunia!”
“Coba saja kamu renungkan,” kata Pablo melanjutkan,” Kita nantinya bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap gallon air yang dialirkan melalui saluran pipa. Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran – saluran pipa, semakin banyak uang yang akan masuk ke kantong kita, Pipa yang baru saya buat ini sebenarnya bukanlah akhir dari suatu cita – cita, Justru pipa saya itu merupakan awal dari cita – cita.”
Akhirnya Bruno menyadari juga betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia tersenyum sambil mengasongkan tangannya yang lecet – lecet itu kepada sahabatnya, Pablo. Mereka berjabatan tangan kemudian berpelukan.
Tahun – tahun pun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pensiun. Usaha saluran pipanya yang mendunia terus saja mengalirkan ratusan Juta Dollar setahun melalui rekening bank mereka. Ketika mereka berjalan – jalan di desa, kadang – kadang mereka melihat beberapa pemuda. mereka tampak sibuk mengangkut air dengan ember.
Kedua sahabat darimasa kecil tersebut lalu mengajak berbincang – bincang pemuda – pemuda tersebut. Mereka menceritakan kisah hidup mereka. Lalu, mereka pun menawarkan bantuan mereka untuk membangun saluran pipa. Tetapi, hanya sedikit saja yang mau mendengarkan nasehat mereka dan bersedia meraih peluang untuk melakukan usaha disaluran pipa ini.
Sedihnya, kebanyakan para pengangkut ember tersebut langsung menolak tawaran ini. Pablo dan Bruno juga sering sekali mendengar alasan alasan yang mereka ungkapkan.
” Saya tidak ada waktu.”
“Teman saya bilang bahwadia kenal orang yang berusaha untuk membangun saluran pipa ternyata gagal.”
“Cuma mereka yang lebih dahulu terjun diusahasaluran pipa ini yang akhirnya bisa sukse.”
“Seumur hidup saya, Pekerjaan saya adalah mengangkat ember. Saya ingin tetap mempertahankan profesi saya itu.”
” Saya tahu ada orang – orang yang pada akhirnya merugi gara- gara usaha saluran pipa. Saya tidak mau hal itu terjadi pada diri saya.”
“Teman saya bilang bahwadia kenal orang yang berusaha untuk membangun saluran pipa ternyata gagal.”
“Cuma mereka yang lebih dahulu terjun diusahasaluran pipa ini yang akhirnya bisa sukse.”
“Seumur hidup saya, Pekerjaan saya adalah mengangkat ember. Saya ingin tetap mempertahankan profesi saya itu.”
” Saya tahu ada orang – orang yang pada akhirnya merugi gara- gara usaha saluran pipa. Saya tidak mau hal itu terjadi pada diri saya.”
Pablo dan Bruno benar – benar merasa prihatin bahwa banyak sekali orang yang tidak punya visi. Tetapi akhirnya mereka pasrah saja.
Mereka sadar bahwa mereka hidup didunia yang masih didominasi dengan mental pembawa ember tersebut. Hanya sedikit saja prosentasenya orang – orang yang berani berambisi untuk mencapai kesuksesan melalui usaha saluran pipa.
ITULAH ORANG -ORANG YANG HANYA MENERIMA TAKDIR TANPA BERUSAHA UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BAIK.
Pelajaran yang bisa dipetik :
1. Bruno masuk dalam perangkap jebakan barter waktu/tenaga dengan uang/upah (tidak ada ember yang diangkut berarti tidak ada uang yang didapat, ini adalah cara berpikir mayoritas orang).
1. Bruno masuk dalam perangkap jebakan barter waktu/tenaga dengan uang/upah (tidak ada ember yang diangkut berarti tidak ada uang yang didapat, ini adalah cara berpikir mayoritas orang).
2. Apa yang terjadi kalau karena sesuatu hal (Sakit, PHK, Pensiun) kita tidak punya waktu atau tenaga untuk membawa ember untuk ditukar dengan gaji/upah? Maka kita tidak akan punya uang lagi.
3. Saluran pipa = saluran uang = saluran kehidupan (bisa mengalirkan uang tanpa perlu bekerja lagi, tanpa berkeringat, bahkan pada saat anda sedang tidur). Mungkinkah? Mind set atau pola pikir inilah yang membedakan nasib Bruno dengan Pablo. Siapakah yang ingin anda tiru? Si Bruno ataukah si cerdik Pablo?
4. Bacalah cerita pendek ini berkali-kali hingga benar-benar meresap di hati anda. Setiap ada orang menawarkan suatu peluang usaha, bukalah pikiran anda, ujilah dengan cerita di atas, apakah masuk kategori saluran pipa atau mengangkat ember.
Marilah kita menjadi manusia pembuat saluran air, kerja keras saat ini untuk menikmati hasilnya nanti mungkin 1,2 atau 3 tahun lagi. Segeralah gabung di bisnis luar biasa ini, jangan sia-siakan kesempatan anda sekarang juga!!
Yeah…………!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar